Mengapa 3,5 Tahun Waktu Tribulasi Bukan 7 Tahun ? (Bag I)

Pendahuluan
Buku WAHYU, kitab akhir dari 66 buku dalam Alkitab, mendapat julukan sebagai “Buku yang serba Tujuh”, Misalnya, kita temui: 1.   Tujuh Bintang = tujuh Pemimpin Jemaat. Wahyu 1:16-20. 2.   Tujuh Kaki Dian yang berarti Tujuh Gereja (Jemaat). Wahyu 1:12, 2-3. 3.   Tujuh Meterai. Wahyu 6-8 4.   Tujuh Malaikat di hadapan Allah. Wahyu 8:2 5.   Tujuh Sangkakala. Wahyu 8-11 6.   Tujuh Cawan Malapetaka. Wahyu 16 7.   Tujuh unsuryang Baru. Wahyu 21-22 dan banyak lagi hal-hal yang TUJUH lainnya.

Oleh: Pdt. DR. M. D. Wakkary
Ketua Umum PGPI

wakkary-ok-pathTetapi, sejauh yang saya baca dan pelajari, tidak pernah saya temui kata-kata 7 TAHUN dalam Buku Wahyu, atau frasa 7 tahun aniaya.
Kitab Wahyu yang mengungkapkan hal-hal yang akan terjadi pada akhir dari zaman-zaman dunia ini, juga menguraikan akan datang suatu masa aniaya besar atau masa tribulasi (tribulation). Begitu jelas dan beberapa kali tertulis, bahwa masa tribulasi itu adalah 3,5 tahun atau tiga setengah tahun. Tidak ada satu pun uraian, nubuatan atau penjelasan bahwa masa aniaya besar yang akan datang lamanya 7 tahun.
7 Referensi tentang 3 V-i tahun. Kalau kita membaca Kitab Daniel dan Buku Wahyu dengan teiiti maka         kita menemui tujuh referensi             mengenai 3 7i tahun :
1. Daniel 7:25 “…..mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa  dan setengah masa.”
2. Daniel 12:7 “Satu masa dan  dua masa dan setengah masa : dan   setelah berakhir kuasa perusak  bangsa yang kudus itu, maka  segala hal ini akan digenapi.”
3. Wahyu 11:2 “…..mereka   akan  menginjak-injak  Kota  Suci  empat  puluh  dua  bulan lamanya.”
4. Wahyu 11:2 “…..memberi tugas  kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambii berkabung, seribu dua ratus  enampuluh harilamanya,”
5. Wahyu 12:6“…..supaya ia   dipelihara di situ seribu dua ratus  enam puluh hari lamanya.”
6. Wahyu 12:4 “….di mana ia  dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa  dan setengah masa.”
7. Wahyu 13:5 “….kepadanya  diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya.”
Acuan untuk mereka yang menafsirkan bahwa tribulasi akan berlangsung “tujuh tahun” diambil dari suatu interpretasi dari nubuatan istimewa Nabi Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:24-27. Tetapi apakah lantas 1 ayat dalam Kitab Daniel mengeciikan 7 ayat dalam Kitab Wahyu ? Tentu tidak. Bahkan, kalau kita teiiti dengan cermat, ayat-ayat dalam Wahyu, membenarkan, menjelaskan dan menegaskan nubuatan Daniel.
Misteri Minggu ke-70
Kendati referensi 3 1/z tahun masa tribulasi cukup banyak, namun tidak sedikit mereka yang masih berasumsi 7 tahun. Padahal tidak mungkin Alkitab bertentangan dengan Alkitab.
Masalahnya, soal penafsiran. Hal ini terjadi karena interpretasi dan eksposisi tentang 7 tahun masa tribulasi dibangun dari pemahaman Nubuatan 70 Minggu Nabi Daniel, khususnya Minggu ke-70, yang tidak akurat.
Sehingga, penafsiran 7 tahun, telah dipaksakan untuk bisa dicocokkan dengan uraian gamblang dan beruiangkali Kitab Wahyu yang menyebut jelas-jelas 3 % tahun. Tentu saja usaha ini tidak mengena, karena tidak pernah ada ayat yang dapat menolong atau menyokong interpretasi ini.
Tetapi apakah Nubuatan 70 Minggu Daniel menjadi bertentangan dengan Wahyu yang diterima Yohanes ? Tidak! Masalah sebenarnya apa yang tertulis dalam Wahyu justru membenarkan dan mendukung Nubuatan Daniel.
Penafsiran   Minggu   ke-7     dari   Nubuatan   70   Minggu justru   menjadi   krusial  jikalau   kita mengabaikan ayat kunci memecahkan soal 7 tahun ini, yaitu Daniel 9:27.
“Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bag! banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu la akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.”"
Rekan saya Pdt. Dr. Lefran Lapian, yang juga Wakil Ketua Departemen Pendidikan PP-PGPI menulis suatu artikel tentang Akhir Zaman yang menguraikan tentang masa tribulasi 3 Yz tahun sebagai “Masa Aniaya Orang Percaya”. Saya kutip sebagian tulisannya, secara bebas, sebagai berikut: 1.   Pengungkapan Misteri Minggu Ketujuh Puluh
Pandangan pertama. Banyak penafsiran langsung menafsirkan masa antikrist adalah tujuh tahun sesuai dengan minggu terakhir dalam minggu ke-70. Karena itu mereka juga percaya bahwa Bait Allah di Yerusalem harus dibangun kembali. Sebab di tengah minggu si antrikrist akan memfauat perjanjian menjadi berat dengan menghentikan korban sembelihan di Bait Allah. Inilah sebabnya mereka menafsirkan tentang kuda putih dan penunggangnya dalam Wahyu 6:2 adalah antikrist dengan segala kemenangannya. Karena sebelum antikrist menghentikan korban sembelihan di Bait Allah dan akan duduk di dalamnya untuk minta disembah sebagai Tuhan dan menguasai dunia, maka dia harus memperoleh kemenangan terus untuk membangun pemerintahan dunia dan disembah sebagai Allah (Wahyu 6:1-17, 2 Tesalonika 2:1-8).
(1) Mereka menafsirkan bahwa Raja itu adalah si antikrist yang akan berperan penuh selama satu kali tujuh masa atau tujuh tahun. Itulah sebabnya mereka langsung membangun ajaran bertolak dari nubuatan Daniel 9:27, bahwa masa antikrist selama 7 tahun yaitu penggenapan minggu ketujuh puluh.
(2) Sesuai dengan penafsiran tersebut, Bait Allah Yerusalem harus dibangun, karena antikrist akan menghentikan korban di pertengahan minggu (setelah 3,5 tahun), kemudian dia akan duduk di Bait Allah tersebut dan memertntah dunia serta minta disembah sebagai Allah (2 Tesalonika 2:1-7). .
(3) Sebelum antikrist duduk di Bait Allah dan minta disembah sebagai Allah, dia harus mendapatkan kemenangan. Itulah sebabnya sehingga muncul tafsiran bahwa kuda putih dalam Wahyu 6:2 adalah antikrist.
Kelemahan tafsiran tentang masa aniaya tujuh tahun yaitu penempatan langsung minggu ketujuh puluh di penghujurtg zaman sebelum kedatangan Yesus kedua kali, sebagai berikut:
Pertama, mereka menafsir bahwa Raja itu dalam ayat 27 adalah oknum antikrist. Kata Raja itu, mestinya ada hubungan dengan ayat-ayat sebelumnya (Baca Danie! 9:25-27). Dengan menafsir Raja itu adaiah oknum antikrist maka ayat 27 menjadi berdiri sendiri dan terpisah dari ayat-ayat sebelumnya. Padahal Daniel 9:25-27, yang terkenal sebagai nubuatan tujuh puluh minggu, merupakan satu kesatuan yang saling menggenapkan. Menafsir bahwa Raja itu adaiah antikrist telah meninggalkan konteks dari nubuatan itu sendiri.
Kedua, nubuatan masa aniaya tujuh tahun telah memaksakan suatu kebenaran yang keliru. Dengan akan dibangunnya kembali Bait Allah perjanjian akan menjadi berat, sebab antrikrist akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan. Itu berarti bahwa tafsiran ini masih percaya bahwa kebenaran taurat tentang penyembelihan binatang sebagai pokok ibadah masih berlaku kepada faangsa Israel. Padahal faktanya Bait Allah sudah dihancurkan oleh Jenderal Titus, seperti telah dinubuatkan oleh Yesus, dengan demikian menghentikan semua korban sembelihan binatang.
Setelah kematian Kristus Yesus sebagai Anak Domba Allah, maka Allah akan membenci semua korban sembelihan. Kebenaran Taurat tidak ada lagi. Semua telah digenapkan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 1:29, Ibrani 9:13-14, Ibrani 10:1,4).
Ketiga, penafsir masa aniaya tujuh tahun tidak menempatkan peranan Yesus sebagai Juruselamat dalam tafsiran tujuh puluh minggu, sebab memisahkan ayat 27 dari ayat-ayat sebelumnya. Penjelasan karya Kristus menghentikan korban-korban sembelihan dan menggenapkan taurat justru terletak pada ayat 27 tersebut.
“Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bag! banyok orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu, ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan….”
Nah, siapa yang menghentikan korban-korban, selain Yesus Kristus, Juruselamat manusia, sang Penebus.
Secara harafiah, tafsiran masa aniaya tujuh tahun gampang diterima. Tetapi tafsiran 7 tahun masa tribulasi, telah meninggalkan hakekat kebenaran, terutama tafsiran itu tidak menempatkan peranan karya Kristus dan kebenaranNya, yang harusnya menjadi pokok nubuatan ini. Antara lain, masih menempatkan Taurat sebagai kebenaran Israel.

Pandangan kedua : Daniel 9:27, bahwa Raja itu, keterangan ayat 25 menunjuk kepada Yesus Kristus (Yang di-Urapi). Membuat perjanjian menjadi berat bagi semua orang, yaitu ketika Yesus menyatakan diriNya sebagai Mesias dan sebagai Allah. Hal ini sangat melukai kepercayaan agama Yahudi yang “Monotheisme”. Pernyataan Yesus Kristus sebagai Mesias dan proklamasi misiNya, membuat bangsa Israel sangat tersinggung. Hal-hal yang memberatkan Israel menerima misi Yesus adaiah :
(1)  Dia menyatakan diriNya sebagai Tuhan dan menghancurkan teologi Israel yang sangat monotheisme. Konsep Allah yang Tritunggal belum dipahami pada waktu itu. Pengakuan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat ditolak bangsa ini (Yohanes 12:45,14:9, 26:63-65). Pengakuan Yesus Kristus sebagai Mesias dan Tuhan dianggap menghujat Allah (Imamat 24:16). Karena itu Yesus ditolak dan harus dihukum mati. Benarlah nubuatan Firman Allah,” pengungkapan misi Yesus Kristus sebagai satu perjanjian yang baru tidak menyenangkan orang banyak. Yesus Kristus harus ditolak dan dihukum mati.
Kematian Yesus Kristus sebagai Domba Allah terjadi setelah Dia melayani 3,5 tahun lamanya. Dia mati di pertengahan minggu, dalam konteks minggu ke-70, untuk menghentikan korban sembelihan dan santapan, sebab Yesus-lah sebagai penggenap semua sistem korban dalam Taurat (Ibrani 9:11-14).
(2) Konsep Mesias bagi Israel adalah datangnya seorang Raja yang akan menetapkan kembali tahta Daud dan sekaligus melepaskan dan membebaskan Israel dari penindasan dan pendudukan Kerajaan Romawi. Sejak penghancuran dan pembuangan Israel (Yehuda) ke Babel oleh Raja Nebukadnezar (tahun 606 SM), maka bangsa ini silih berganti dijajah oleh raja-raja asing. Mereka merindukan satu Mesias untuk membebaskan dan menjadikan Israel kembali menjadi Kerajaan Besar berdaulat, yang ditakuti oleh negeri-negeri sekitar seperti pada zaman Raja Daud.
Ketika Yesus memproklamasikan diri sebagai Mesias dan Juruselamat dalam arti rohani, maka bangsa ini kecewa, bahkan menuduh Dia menghujat Allah. Sebelum hari Pentakosta, hari Kepenuhan Roh Kudus, murid-murid Yesus dalam hati sanubarinya masih berharap bahwa Yesus Kristus adalah Mesias penerus tahta Daud. Ketika Yesus hendak terangkat ke sorga, mereka dengan diam-diam bertanya-tanya : “maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi /srae/?”‘(Kisah Para Rasul 1:6). Israel telah salah kaprah tentang arti Mesias yang sebenarnya. Kata Mesias diartikan secara lahiriah, sebagai Juruselamat kerajaan dan bangsa Israel secara jasmani. Pemahaman mereka tentang Messias masih dalam kerangka konsep politik, ekonomi dan sosial.
(3)   Setelah penolakan Israel kepada Yesus sebagai Mesias, Israel masih terus mempersembahkan korban sembelihan di Bait Allah. Walaupun ketika Yesus mati sebagai Mesias, tirai di Bait Allah yang memisahkan ruangan Maha Kudus tercabik dari atas ke bawah ; ini berarti bahwa semua telah genap di dalam Yesus Kristus dan Allah tidak lagi berkenan akan korban-korban sembelihan dan santapan (Matius 27:51, Keluaran 26:31-33). Ingat nubuatan Nabi Yesaya, korban semacam ini, sebagai jiwa menyembah dewa kejijikan sehingga Tuhan memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang. (Yesaya 66:2-4).
Pelayanan Yesus selama 3 1/2 tahun, itulah setengah dari minggu ketujuh dari nubuatan 70 Sabat.
Pekerjaan Yesus sebagai Mesias-lah yang telah menghentikan semua korban sembelihan dan santapan di tengah minggu. Bukan Antikrist! Setelah Yesus melayani 3 K tahun, maka Dia mati untuk menggenapkan Taurat dan menghentikan semua korban sembelihan dan santapan. Dia datang untuk menggenapkan hukum Taurat (Yohanes 1:29, Ibrani 9:11-14, Daniel 9:27). Hanya oteh korban darah Yesus di salib Golgota semua korban darah binatang dihentikan.
Selanjutnya, “di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan” mempunyai pengertian ganda. “Di atas sayap kekejian” yang dalam bahasa Inggris “The over sprading of abominations” (KJV), Overspread (fbrani : Kanaph), berarti ujung dari satu bentangan “A Wing of Bird”, suatu bentangan atau jangkauan seperti sayap burung, memiliki ujung jangkauan.
Setelah kematian Kristus dan tirai memisahkan tempat Maha Kudus tercabik, bangsa Israel terus melanjutkan ibadah Taurat dan penyembelihan binatang. Hal ini membangkitkan kemurkaan Allah, yang terus berlangsung. Allah mensifatkan hal tersebut sebagai sayap kekejian. Atau suatu bentangan waktu yang menerbitkan kekejian Allah.
Pelaksanaan “I penyembelihan berjalan terus selama 40 tahun mengundang kemurkaan Allah dan akhirnya mengutus Jendera! Titus Pangiima Romawi datang membinasakan kota Yerusalem sekaligus Bait Allah di dalamnya.
Walaupun gedung Bait Allah telah dihancurkan dan Israel tersebar ke seluruh bumi namun mereka tetap menolak Yesus sebagai Mesias. Bahkan sampai hari ini mereka masih rindu untuk membangun Bait Allah itu kembali dan melanjutkan ibadah berupa penyembelihan binatang. Secara lahiriah mereka tidak lakukan itu, tetapi di dalam hati mereka masih memegang teguh aturan Taurat dan merindukan Bait Allah dibangun, kemudian mengadakan penyembelihan seperti dahulu. Selama mereka menolak Yesus sebagai Mesias dan berpegang pada aturan Taurat.

Paruh Kedua Minggu Ketujuh Puluh, Antikrist Berkuasa Selama 3 % tahun
Raja itu, seperti dinyatakan Daniel 9:27, ialah Tuhan Yesus Kristus yang telah menghentikan korban sembelihan di tengah minggu. Pelayanan Yesus Kristus selama 3 V* tahun di bumi sudah menggenapkan setengah dari satu minggu terakhir. Diikuti oleh satu bentangan waktu, yang dimetaforakan sebagai “di atas sayap kekejian” atau “the overspreading of Abominations”, “akan datang yang membinasakan”. Pengertiannya, bahwa melalui satu bentangan waktu akan datang yang membinasakan, digenapkan dalam dua pemahaman :

(1) Bentangan 40 tahun ; datanglah Jenderal Titus dari Romawi menghukum Israel dengan menghancurkan dan membinasakan kota Yerusalem dan Bait Allah di dalamnya. Dalam 40 tahun Israel tetap mengadakan penyembelihan dan pengorbanan darah. Mereka tidak mengindahkan darah Kristus sebagai korban pendamai manusia dengan Allah yang telah menggenapkan Taurat. Pengorbanan darah binatang di Bait Allah Yerusalem setama 40 tahun adalah kekejian di hadapan Allah (Yesaya 66:3-4).
Jenderal Titus bukanlah antikrist atau si pembinasa yang akan menguasai dunia tetapi dia adalah bayangan antikrist yang akan datang sebagai pembinasa yang terbesar yang akan menganiaya orang-orang Kristen. Dia telah dipakai Tuhan untuk menggenapkan nubuatan, dengan menghancurkan dan membinasakan Bait Allah dan kota Yerusalem karena ibadah kekejiannya itu.

(2) Bentangan yang panjang sebagai zaman Gereja ; Setelah penggenapa 3 Yz tahun pertama maka ada satu bentangan yang panjang yang masih berlangsung sampai hari ini. Walaupun tidak ada lagi penyembelihan dan penumpahan darah binatang di Yerusalem karena Bait Allah belum berdiri. Tetapi Israel sampai hari ini masih menolak Yesus sebagai Mesias. Bahkan mereka masih rindu untuk membangun kembaii Bait Yerusalem di atas fondasi bangunan yang lama. Hal itu belum dapat mereka lakukan sebab di atas fondasi bangunan yang lama teiah berdiri dua bangunan suci umat muslim yaitu Mesjid Al Aqsa dan Dome of the Rock.
“Overspreading of Abominations” masih berlaku bagi mereka. Benar tidak ada penumpahan darah binatang lagi, tetapi dalam hati mereka, kerinduan untuk melakukan ibadah kekejian itu masih meluap-luap. Bahkan semangat inilah yang menjadi motivasi utama bangsa Israel untuk kembali ke tanah Palestina. Mereka merindukan untuk kembali ke tanah perjanjian dengan semangat untuk membangun kembali Bait Allah dan melakukan ibadah Taurat di dalamnya. Tetapi tentu saja Allah tidak mengijinkan hal itu terjadi, sebab Tuhan Allah yang telah menghancurkan Bait di Yerusalem tahun 70 M sebagai penghukuman atas kekerasan hati mereka. Tuhan Allah pula yang mengijinkan dibangunnya bangunan suci umat muslim di atas fondasi Bait Yerusalem, supaya mencegah pembangunan Bait Yerusalem. Bentangan yang panjang itu merupakan kebencian Allah atas Israel, tetapi adalah anugerah keselamatan untuk bangsa-bangsa lain.
Bentangan panjang itu kita kenal sebagai zaman Gereja ; waktu di mana keselamatan di daiam kasih karunia Kristus diproklamasikan untuk semua bangsa. Roma 11:11, “….maka aku bertanya : adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekalhkali tidak. Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.”
Jadi, setelah 3 K tahun pertama minggu ke-70 digenapkan melalui pelayanan Yesus, maka ada satu bentangan atau gap yang memisahkannya dengan 3 % tahun kedua, dan barulah minggu ke-70 digenapkan, kemudian Yesus datang kedua kali untuk menutup zaman. Bentangan yang panjang atau kesenjangan, membuka peluang untuk zaman anugerah, suatu jangka waktu di mana Injil mendapat kesempatan luas diberitakan kepada segenap bangsa, dan apabila telah genap waktunya zaman bangsa-bangsa (zaman Gereja), Allah akan beralih kembali kepada bangsa ini. Dalam Wahyu 11:3-6 dikatakan bahwa ada dua saksi yang akan bersaksi selama 1260 had kepada bangsa Israel. Melihat mujizat yang dikerjakan oleh kedua saksi itu, yang ternyata adalah Musa dan Elia, dua nabi Israel yang terbesar, yang memiiiki kuasa menutup langit supaya tidak turun hujan, menjadikan air menjadi darah, memukul bumi dengan segala malapetaka, mendatangkan api hukuman, setiap kali mereka menghendakinya, barufah Israel sebagai bangsa menerima Yesus Kristus sefaku Messias. Zaman Gereja atau zaman bangsa-bangsa diakhiri, dan suatu waktu khusus untuk Israel (Roma 11:11-12, 25-26), di saat mana kedua saksi akan bersaksi sefama 3 1/2 tahun kepada bangsa ini, sebagai paruh kedua dan penutup dari nubuatan minggu ke-70, sementara pada waktu yang sama kota Yerusalem dikuasai dan diinjak-injak sefama 3 Yz tahun.

(3) Masa antikrist selama 3 %. tahun ; siapakah yang akan menginjak-injak kota Yerusalem daiam nubuatan Wahyu 11:2? Dialah antikrist yang menjadikan kota Yerusalem sebagai pusat pemerintahan sedunia. Sasaran dari antikrist melalui sentralisasi politik dan globalisasi ekonomi adalah menghancurkan iman Kristen dan menjadikan semuanya murtad, serta mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Dikatakan bahwa dia akan duduk di Bait Allah dan minta disembah sebagai Allah. Penofakan penyembahan kepada dia diikuti oleh penganiayaan besar-besaran kepada orang Kristen yang ada pada waktu itu. Begitu banyak yang murtad karena tidak tahan menderita akibat penganiayaan dan banyak yang menjadi sahid Kristus (2 Tesalonika 1:2-8, Wahyu 6:7-11). Pemerintahan antikrist berlaku selama 42 bulan atau satu masa dan dua masa dan setengah masa atau 3 % tahun, adalah menggenapi nubuatan tentang minggu ke-70, bahwa di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, tetapi kemudian Tuhan Yesus akan membinasakan sang pembinasa waktu Dia datang kedua kali (2 Tesalonika 2:8, Wahyu 19:20). Kedatangan Yesus Kristus kedua kali akan menangkap dan melemparkan antikrist dan nabi-nabi palsu ke neraka api belerang yang kekal selamanya (Wahyu 19-20). Antikrist akan berkuasa selama 3 %. tahun melengkapi 3 Yz tahun pelayanan Yesus dan digenapilah minggu ke-70 nubuatan nabi Daniel (Daniel 9:25-27).
Cuplikan bebas dari uraian Pdt. Dr. L Lapian yang saya kutip, dapat membuka wawasan kita untuk lebih mengerti lagi mengapa masa tribulasi itu 31/z tahun.
Dr. Jeff Hammond, pendeta dari Australia, yang sering ke Indonesia, dalam buku “Peta Zaman” juga mengungkapkan masalah krusial ini yaitu penafsiran dan pemahaman minggu akhir dari Nubuatan 70 Minggu Nabi Daniel, saya kutip sebagai berikut:
“Dan satu minggu akan meneguhkan perjanjian itu dengan banyak orang”, Daniel 9:27 {Terjemahan Septuaginta).
Dalam Terjemahan Lama ayat ini berbunyi : “Maka pada sabat satu itu akan dinyatakan perjanjian itu kepada beberapa orang dengan kemuliaannya.” Perjanjian yang akan dinyatakan adalah perjanjian yang penuh kemuliaan.

Bersambung Edisi Mendatang

SocialTwist Tell-a-Friend
Tags:
Filed Under: Home, Hystory

Leave a Reply