Mon. Apr 22nd, 2019

Calon Presiden RI: Bukan Keislamannya yang Utama, Tetapi Ketoleransiannya Bagi Rakyat

JAKARTA, Pantekostapos.com — Banyak orang terjebak pada menakar keislaman antara Jokowi dan Prabowo dalam pertarungan politik PilPres (Pemilihan Presiden) di Indonesia. Kita sebagai orang yang logis berpikir secara sehat tersenyum simpul jika soal takaran keislaman calon presiden menjadi ukuran utama dalam memimpin Indonesia 5 tahun ke depan.

Apa sebenarnya yang dibutuhkan bangsa kita dalam membangun Indonesia menjadi negara yang maju disegani dan dihormati dunia? Pertanyaan ini seharusnya menjadi jawaban calon Presiden Indonesia jika satu dari dua calon tersebut terpilih memimpin Indonesia.

Saya sebagai rakyat biasa (wong cilik) merasa yakin bahwa kedua calon Presiden, baik Jokowi maupun Prabowo, mampu membangun Indonesia dalam aspek perekonomian, kebudayaan, pendidikan, politik, lingkungan hidup, dan lain-lain, tetapi aspek keberagaman menjadi aspek kunci untuk mendorong aspek-aspek lainnya berkembang secara konstruktif, kreatif, dan inovatif.

Buat bangsa kita, aspek keberagaman adalah aspek yang memiliki kekayaan dahsyat dan luarbiasa yang tidak dimiliki negara-negara lain di dunia ini. Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang penuh toleransi, tepo-saliro, dan gotong-royong karena keberagamannya. Keberagaman agama/kepercayaan, suku/ras, bahasa dan budaya/tradisi, kuliner, pakaian/busana (termasuk koteka dari Papua), dan lain-lain. Semuanya ini secara cerdas mampu diramu para pemimpin pendahulu kita, khususnya jelang Kemerdekaan Indonesia, dalam satu lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu PANCASILA, dengan mottonya Bhinneka Tunggal Ika(Beragam tetapi Satu Kesatuan Indonesia).

Karena itu, marilah kita secara cerdas mencermati kedua calon presiden kita apakah mereka berkompetensi merawat keberagaman Indonesia dengan berpedoman pada falsafah hasil pemikiran murni bangsa Indonesia tersebut (Pancasila) yang digali dari kearifan bangsa sebagai bangsa yang menatap masa depan yang lebih baik dari hari ini?

Kita meyakini bahwa Jokowi dan Prabowo tidak diragukan lagi pada posisinya berpihak dan berpijak pada Pancasila. Menyoal iman kepercayaan kedua calon presiden ini bukan urusan atau ranah kita. Ranah atau domain tersebut adalah bagian/urusan Allah bukan kita. Kita tidak memiliki hak untuk menilai dan bahkan menghakimi keislaman kedua orang yang kita usung menjadi pemimpin bangsa. Semoga Anda cerdas dalam memilih.

Penulis: Boy Tonggor Siahaan (Jurnalis/Pewarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *