Ditengah Pandemi Covid 19, HUT Ke 100 Tahun GPdI Tetap Digelar Di Bali

Pdt. Dolfie Memah (Ketua Umum HUT GPdI ke 100 Tahun Bali), 29-31 Maret 2021

Jakarta,Pantekostapos.com-Puncak acara GPdI yang rencana akan digelar pada 29-31 Maret 2021 akan menjadi catatan bersejarah bagi sebuah organisasi gereja beraliran Pentakosta yaitu Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI). Dimana sebuah acara spektakuler pesta HUT GPdI ke 100 Tahun (Satu Abad GPdI) bakal digelar di Bali Nusa Dua Convetion Center (BNDCC) dan diperkirakan akan dihadiri oleh 1000 orang.

Pdt. Dolfie Memah (Ketua Umum HUT GPdI ke 100 Tahun Bali), 29-31 Maret 2021

Meskipun Indonesia masih dilanda pandemi Covid 19 dan perkembangan terkini angka positif covid 19 dan angka kematian akibat Covid 19 hingga Tahun 2021 masih tinggi, tetapi Panitia Nasional HUT GPdI ke 100 Tahun tetap menggelar acara tersebut. Kenapa panitia tetap melaksanakan acara HUT GPdI  ke 100 meski Covid 19 masih melanda Indonesia? “Jawabannya bahwa panitia nasional sudah melayangkan surat undangan ke Presiden Jokowi, dan surat tersebut sudah diterima oleh pihak Istana negara langsung melalui sekretaris pribadi Presiden, dan Pemerintah Daerah Bali melalui Gubernur Dr. Ir I Wayan Koster MM. Dalam pertemuan dengan panitia pelaksana di Bali sudah menyetujui pelaksanaan acara tersebut,” Demikian pernyataan Pdt Dolfie Gustaf Memah, Ketua Umum Panitia HUT GPdI ke-100 Tahun kepada Pantekosta Pos. Ditambahkannya sebelumnya panitia merencanakan acara HUT ke 100 Tahun GPdI di Bali akan dihadiri 5000 orang, namun terjadi perubahan yang disebabkan adanya pandemi Covid 19 yang belum kunjung berhenti, maka panitia membatasi undangan pada acara tersebut hanya dihadiri oleh 1000 orang.

“Adapun tamu undangan yang akan datang pada acara tersebut hanya dibatasi pada tamu undangan diantara Tamu-tamu dari Luar Negeri (Amerika, Australia, Japan, dll), Pimpinan-pimpinan MD-GPdI se-Indonesia, Ketua-ketua Komisi Pusat GPdI, Tokoh-tokoh penting GPdI (Pdt AH. Mandey, Pdt DR. MD Wakkary) Presiden Jokowi, dan pemerintah setempat,” Jelas Dolfie Memah, Majelis Pertimbangan Rohani MP-GPdI.

Sementara itu menyikapi peryataan Pdt Dolfie Memah, Ketum Panitia HUT GPdI ke 100, langsung ditanggapi oleh beberapa warga GPdI diantaranya, Pdt. DR. Samuel Zakka. “Pandangan saya terhadap pelaksanaan HUT seabad GPdI. Saya adalah salah seorang yang sangat bersemangat dengan perayaan HUT Seabad GPdI ini, bahkan saat masuk di Januari 2021 (menjelang 2 bulan hari H) saya berharap rangkaian acara ini dapat dijalankan dengan protokol Kesehatan. Namun ini, bukanlah acara kecil yang hanya melibatkan 50-100 orang seperti sebuah gereja lokal. Tetapi ini akan dihadiri oleh sekitar 1.000 orang saja dari target semula sekitar 5.000 orang. Namun dengan perkembangan situasi yang ada, sayapun akhirnya berpikir bahwa, acara tersebut perlu dipertimbangkan dengan dasar : 1) mutasi baru Virus Corona dalam format yang lebih ganas dari virus ini bahkan baru muncul di Januari dan tentu saja akan membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk menghambatnya. 2) Jumlah 1.000 inipun masih cukup banyak dan sangat “berpotensi” menjadi biang penyebaran virus Covid-19. Artinya, ketika seseorang yang hadir membawa bibit virus atau terkena virus dalam perjalanan, maka tetap yang dijadikan “kambing hitam” adalah acara kita yang indah ini. 3) Format acara sudah diubah menjadi “MUKERNAS” dan yang hadir hanyalah pejabat2 GPdI setikngkat MP dan MD. Ini berarti kelompok usia yang akan hadir diestimasi 85% di antaranya berada di asia 55 tahun ke atas, yang notabene (sesuai ilmu pengetahuan yang disebarkan kepada masyarakat umum dan jelas dapat dipertanggungjawabkan) “lebih rentan” menyerap virus tsb. 4) Meski dengan pengaturan social distance dan memakai masker, namun Jumlah kehadiran 1.000 orang tersebut dalam sebuah ruangan (ball-room atau auditorium) atau dalam bentuk pecahan yang lebih kecil sekitar 500 orang per ruangan yang ber-pendingin ruangan, tetaplah merupakan sebuah probability untuk saling menyebarkan virus. Dengan demikian “mungkin” acara yang kita inginkan dan cintai bersama ini tentu saya sarankan untuk ditunda, agar semua menjaga diri tetap di rumah atau kegiatan2 jemaat lokal saja. Tidak satupun di antara kita yang bisa memastikan bahwa “dengan metaati protokol Kesehatan” saja mereka “tidak mungkin” terinfeksi,”Tutur Pdt. Samuel.

Pdt. Dr. Samuel Tandiasa

 

Hal senada disampaikan oleh Pdt Efraim Dacosta untuk pelaksanaan puncak acara HUT GPdI di Bali sarannya ditunda atau jika panitia tetap menggelar acara tersebut harus dibatasi jumlah yang hadir khusus pimpinan-pimpinan MD-GPdI saja. Hal lain dukutip dari Facebook Pdt DR Samuel Tandiasa, menulis sekedar saran untuk acara satu abad GPdI, memasuki Januari 2021 ini, kita dihadang oleh kondisi yang tidak terbayangkan sebelumnya, suatu kondisi yang tidak hanya menghambat aktivitas kita tetapi bahkan mengancam kehidupan kita: 1. Penyebaran Covid-19 yang tidak terkendali, malah semakin meluas, memburuk dan semakin intensif, sehingga korban jiwa pun semakin meningkat 2. Penerapan PSBB hampir di semua daerah, terutama Jawa dan Bali. 3. Surat Edaran Pemerintah tentang pembatasan jumlah peserta dalam setiap pertemuan ibadah (hanya 50%). 4. Ketatnya Persyaratan untuk bepergian keluar daerah, terutama kalau lintas pulau.

Situasi ini sudah pasti akan menjadi kendala bagi sebagian besar peserta, terutama pendeta-pendeta yang telah berusia 60 tahun ke atas dan dari luar pulau. Disamping itu pendeta-pendeta yang usia 60 th ke atas sudah tentu akan berpikir panjang untuk hadir, meskipun disediakan fasilitas penginapan, karena taruhannya adalah kesehatan mereka. Sementara pendeta-pendeta  GPdI yang bisa hadir justru mungkin 80% berusia di atas 60 tahun. Melihat realitas kondisi seperti ini, MD-GPdI DIY menyarankan kiranya Panitia memikirkan kembali berkenaan dengan beberapa hal:1. Bentuk acaranya. Setiap acara tidak lebih dari 60 menit. 2. Ruang pertemuan bukan Ruang tertutup.3. Jumlah peserta dalam sebuah ruang pertemuan dibatasi. Catatan: untuk kondisi saat ini jumlah 500 orang dalam sebuah ruangan pertemuan akan sangat riskan, apalagi di ruang ber-AC. 4. Tempat penginapan peserta dipisah-pisah (artinya semua peserta tidak disatukan di sebuah hotel),5. Jumlah  peserta (1000 orang) dievaluasi kembali, bandingkan-jumlah kerumunan dalam kasus FPI. Demikian sekedar usul dan bahan pemikiran. Maaf kalau dianggap kurang berkenan. Menjawab beberapa tanggapan dari beberapa warga GPdI Ketua Umum Panitia HUT ke 100 Tahun GPdI, Pdt Dolfie memah mengatakan, bahwa jika melihat perkembangan terkait dengan covid 19 grafiknya memang masih naik turun mungkin hingga 4 tahun ke depan covid ini masih tetap ada apalagi jika kita mengaitkan dengan Alkitab bahwa ini adalah sebuah wabah bala sampar secara rohani gereja harus siap menghadapinya menjelang kedatangan Tuhan. Oleh karena itu, Pdt Dolfie Memah meminta kepada seluruh warga GPdI untuk terus mendoakan rencana acara HUT tersebut agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan agar acaranya akan berlangsung sesuai rencana dan mengacu pada aturan dan anjuran protokol covid 19 yang sudah dicanangkan pemerintah. (Tim Pantekosta Pos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *