Mon. Apr 22nd, 2019

FUKRI dan JDN Ajak Umat Kristen Berdoa untuk Keadilan di Indonesia

JAKARTA, Pantekostapos.com — FUKRI (Forum Umat Kristen Indonesia) dan JDN (Jaringan Doa Nasional) membuka Kegiatan Doa Kesatuan Umat Bagi Kesejahteraan dan Keadilan Bangsa di Gedung Bala Keselamatan, Jakarta, pada Jumat (18/1/2019). Tema untuk kegiatan tersebut adalah: “Kejarlah Keadilan.” (bdk. Ul. 16:20)

Mewakili FUKRI, Pdt Dr Herriette Lebang (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia [PGI]) menyampaikan bahwa gagasan untuk melaksanakan kegiatan ini berawal dari Peringatan 500 tahun Reformasi oleh Martin Luther diperingati secara global. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan PGI menyadur bersama materi Pekan Doa 2017 untuk digunakan oleh gereja-gereja di Indonesia. Dalam perkembangannya Pekan Doa ini kemudian mendapat dukungan dari lembaga gereja aras nasional lainnya yang tergabung dalam FUKRI. Bersama dengan JDN, Kegiatan inilah yang sekarang kita laksanakan dengan diawali Kebaktian Pembukaan pada Jumat (18/1/2019) pukul 17.30 WIB.

Momen Pekan Doa tahun 2019 mempunyai makna penting dalam perjalanan oikoumenis dan kesaksian bersama gereja-gereja di Indonesia. Diharapkan agar Pekan Doa ini dilanjutkan untuk dirayakan bersama secara oikoumenis setiap tahun di seluruh tanah air. Waktunya dapat disesuaikan dengan jadwal gereja-gereja setempat.

Materi Pekan Doa 2019 yang digunakan oleh gereja-gereja di seluruh dunia ini dipersiapkan oleh Tim Indonesia dari PGI dan KWI. Tim telah memilih tema “Kejarlah Keadilan” bertolak dari kenyataan di Indonesia maupun di dunia di mana KETIDAKADILAN merupakan salah satu isu pokok yang harus ditanggulangi bersama demi kesejahteraan masyarakat dunia dan Indonesia khususnya, serta kelestarian alam semesta di tengah-tengah krisis ekologis global sekarang ini.

Lembaga hukum yang diharapkan dapat menjamin keadilan ternyata sering dikotori oleh suap, sehingga keadilan tidak dapat ditegakkan. Tidak jarang para pemimpin menghakimi dengan memandang bulu. “Praktik suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar,” demikian Firman Tuhan (bdk. Ul. 16:19). Ketidakadilan ini juga dialami oleh pekerja migrant yang belum mendapat perlindungan seutuhnya dari negara, perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dan perdagangan manusia, orang miskin yang belum mendapat akses akan layanan dasar (pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan), warga negara yang belum mendapat kebebasan untuk menjalankan ibadahnya dan lain-lain.

Dalam menyongsong Pemilihan Presiden/Wakil Presiden RI dan Anggota Legislatif pada 17 April 2019, Umat Kristiani di Indonesia memohon semoga Hikmat Allah menyertai semua warga negara agar mereka dapat menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab, memilih pemimpin yang memiliki integritas dan mencintai keadilan serta peduli kepada kesejahteraan seluruh warga masyarakat tanpa membedakan. Kita doakan para calon Pilpres dan Pileg, para penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) dan segenap aparat negara yang ikut memelihara terselenggaranya Pemilu yang damai dan bermartabat serta berkualitas, agar mereka melakukannya dengan jujur, setia serta takut akan Tuhan Hal ini menjadi sebuah prasyarat untuk mencapai masyarakat yang adil, sejahtera dan makmur, serta rukun dan damai, di mana keselamatan dan kesejahteraan seluruh ciptaan Allah dapat terwujud.

Pekan Doa ini juga mendoakan agar warga negara mendapat Hikmat-Nya dalam mewaspadai politisasi agama yang sering digunakan untuk meraup dukungan dan simpati demi meraih kekuasaaan. Produksi konten hoax yang menebarkan ujaran kebencian melalui media sosial menjadi ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, dan karena itu harus dihentikan. Hendaknya warga berhikmat dalam menerima dan menyebarkan informasi terutama lewat media sosial.

Sementara itu, krisis ekologis juga menjadi pergumulan bersama. Kerusakan lingkungan yang mengakibatkan meningkatnya suhu bumi dan munculnya berbagai penyakit juga merupakan akibat kerakusan manusia yang mengeksploitasi alam tanpa batas. Bumi dan isinya yang diciptakan Allah sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, jika setiap orang rela berbagi dengan sesamanya dan merawat ciptaan lainnya. Bencana alam yang silih berganti melanda masyarakat kita menyebabkan tidak sedikit korban. Semua ini menjadi ancaman bagi kelanjutan kehidupan di planit bumi ini.

Pekan Doa bagi Kesatuan Gereja mengajak semua warga gereja apapun latar belakang denominasinya untuk ikut dalam gerakan doa bagi kesatuan tubuh Kristus, agar umat kristiani dimampukan menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mewujudnyatakan keadilan dan damai sejahtera-Nya di dunia, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Sejarah awal Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Gereja atau Week of Prayer For Christian Unity (WPCU) dimulai sejak 1966. Materi Pekan Doa tersebut dipersiapkan oleh Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani, Vatikan, dan Komisi Iman dan Tata Gereja, Dewan Gereja-gereja Sedunia, Jenewa. Pekan Doa ini yang di berbagai tempat diadakan pada 18-25 Januari setiap tahun, didorong oleh kesadaran akan pentingnya peranan doa bersama untuk mewujudnyatakan kesatuan tubuh Kristus dalam melayani di tengah dunia.

Gerakan doa ini merupakan sebuah gerakan yang sudah dimulai sedikitnya sejak abad ke-18, diusahakan oleh berbagai denominasi Kristen, al. Pentakosta, Katolik Roma, Anglikan.

 

Jakarta, 18 Januari 2019

Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI):

  • Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
  • Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
  • Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII)
  • Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI)
  • Persekutuan Baptis Indonesia (PBI)
  • Bala Keselamatan (BK)
  • Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK)
  • Gereja Orthodox Indonesia (GOI).

Jaringan Doa Nasional (JDN)

 

Pewarta: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *