Pdt. Dr. Adi Sujaka, M.Th. Memimpin Dengan Hati Mengangkat Kualitas Gembala Memajukan GPdI Jawa Timur

Ketua MD Jatim, Pdt. Dr. Adi Sujaka dan Pdt. Rita (istri)

Surabaya, Pantekostapos.com,-Menyebut nama Pdt. Dr. Adi Sujaka, M.Th., tidaklah asing. Di pentas nasional ia merupakan Sekretaris Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (MP-GPdI) pada era kepemimpinan Pdt. Dr. M.D. Wakkary. Ia pun hamba Tuhan senior di kalangan Gereja Pantekosta, di Indonesia (GPdI), menggembalakan sidang jemaat GPdI Gloria, Jalan MT Haryono 178, Dinoyo Malang, Jawa Timur. Kepemimpinan Pdt Adi Sujaka di organisasi GPdI khususnya di Provinsi Jawa Timur sebagai Ketua Majelis Daerah Gereja Pantekosta di Indonesia (MD-GPdI) pada periode 2017 hingga 2022 dijalaninya dengan penuh rasa tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi dan tidak pernah mengenal rasa lelah, karena bagi seorang hamba itu adalah bagian dari sebuah pelayanan yang mulia yang dipercayakan oleh Tuhan Yesus Kepala gereja bahkan kepercayaan dari hamba-hamba Tuhan (Gembala-gembala Sidang) GPdI se-Jawa Timur.

Ketua MD Jatim, Pdt. Dr. Adi Sujaka dan Pdt. Rita (istri)

Jika melihat perjalanan kepemimpinan Pdt Adi Sujaka dalam memimpin hamba-hamba Tuhan (Gembala-gembala Sidang) GPdI se-Jawa Timur yang jumlahnya ribuan beliau punya kemampuan membawa setiap para hamba-hamba Tuhan untuk selalu bersatu dan hidup dalam doa dan kekudusan. “Visi membawa dan memenangkan jiwa-jiwa baru untuk menerima dan percaya kepada Yesus Kristus menjadi kenyataan asalkan kita harus punya hati yang tulus dalam memimpin dan melayani Tuhan” ujar Adi Sujaka, dosen Sekolah Tinggi Teologi GPdI.

Pdt. Adi Sujaka berpose bersama dengan para Pendeta di Jatim

Diujung masa bakti pertamanya, Adi Sujaka masih meninggalkan pekerjaan rumah. Ia rindu mengimplementasikan pelayanannya lebih baik lagi pada periode kedua. “Tentunya kerinduan itu saya bawa dalam doa dan serahkan sepenuhnya kepada kehendak Yesus Kristus.”

Kika: Ibu Pdt Rita Sujaka, Ibu Pdt Yvonne Awuy Lantu, (Ketua MD-GPdI Sulut), Pdt DR Adi Sujaka, M.Th

Menurut Adi Sujaka, penginjilan, penggembalaan, pendidikan, kesejahteraan hamba Tuhan dan, administrasi serta komunikasi/multimedia merupakan 5 fokus bidang yang akan menjadi perhatiannya. Hal itu menjadi kesimpulan dari pelayanannya sebagai hamba Tuhan untuk memajukan GPdI.

Penginjilan merupakan upaya memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Penginjilan mengajak orang bertobat dari dosa dan menerima Yesus, Sang Juru Selamat. “Dengan menginjil kita menghormati otoritas Tuhan yang memerintahkan penginjilan. Sebelum memberikan perintah menginjil, Tuhan Yesus menyatakan otoritas-Nya terlebih dahulu, Kepadaku diberikan kuasa di surga dan di bumi karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku. “Jika tidak menginjil, kita menghina otoritas-Nya.”

“Tidak ada alasan untuk tidak menginjil. Cara menginjil begitu banyak. Gereja tumbuh karena penginjilan. Tanpa melakukan penginjilan. Gereja akan mati. Gereja mutlak melakukan penginjilan. Jangan sampai kita melupakan penginjilan. GPdI tumbuh karena penginjilan. Jawa Timur merupakan daerah yang mula-mula menerima Api Pantekosta. Sebagian besar pionir GPdI menerima mandat penginjilan di Jawa Timur.”

Memang Jawa Timur menjadi ladang pelayanan para pionir Pantekosta. Catat saja nama-nama seperti Pdt. H. N Runkat, ketua GPdI pertama dan Pdt. R.O Mangindaan yang melayani di Mojokerto.

Penggembalaan merupakan penerapan Injil, berita sukacita Yesus Kristus, kepada anggota secara pribadi, yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada jemaat. “Penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri.”

Yesus mengibaratkan pelayanan kepada jemaat-Nya dengan penggembalaan. “Kita sebagai gembala dituntut untuk menjaga, memelihara, membimbing dan menyelematkan mereka dari bahaya.”

Penggembalaan dilakukan dengan mencari dan mengunjungi anggota jemaat satu persatu; mengabarkan firman Allah kepada jemaat di tengah situasi hidup mereka pribadi; melayani jemaat, sama seperti Yesus melayani mereka; supaya mereka lebih menyadari iman mereka, dan dapat mewujudkan iman itu dalam hidupnya sehari-hari. “Pedoman penggembalaan atau pelayanan pastoral akan merujuk ke Surat Timotius dan Surat Titus.”

Pendidikan perlu mendapat perhatian kita bersama. Terutama pendidikan teologi yang akan memperlengkapi para gembala mendalami dan memahami firman Tuhan. Dengan mempelajari teologi, kita mempelajari relasi dengan Allah, dengan diri sendiri dan sesama. “Saya berharap para gembala menguasai teologi Sistematika, Biblika, Praktika dan Historika, untuk mengantisipasi perkembangan dunia yang begitu pesat.”

“Belum terpikir dulu bahwa manusia akan mengeksplorasi angkasa luar, tapi sekarang, kita disajikan bagaimana manusia mulai mengeksplorasi Planet Mars. Bahkan kita diberitahu bahwa Asteroid Apophis yang melintas dekat Bumi pada awal Maret 2021 pada tahun 2029 akan menabrak Bumi dimana akibat yag ditimbulkan dapat memunahkan perdaban manusia. Apakah itu kiamat? Kita perlu menjawabnya dengan kebenaran firman Allah.”

Kesejahteraan para hamba Tuhan akan menjadi perhatian khusus. Dengan hidup sejahtera, konsentrasi pelayanan tidak akan terganggu. Para gembala fokus melaksanakan tugas pelayanan. “Kita tahu, gembala juga manusia, memiliki kebutuhan yang sama dengan sesamanya: biaya hidup, kebutuhan sandang, pangan, papan, uang sekolah anak-anak dan lain-lain. Semuanya perlu dicukupi.”
“Menyejahterakan para gembala ini bukan perkara mudah, namun pengalaman bersama para gembala yang melayani di kota hingga pedesaan memberikan pemahaman dan pelajaran untuk memberikan solusi praktis kepada mereka.”
Begitu juga dengan administrasi akan mendapat perhatian. Pendataan baik data pribadi gembala, jemaat dan asset GPdI digencarkan sehingga tertib administrasi tercipta. Rapihnya administrasi akan mendukung kinerja MD dan perangkat di tingkat daerah dalam melancarkan pelayanan. Fungsi administrasi yang antara lain berupa perencanaan, pengorganisasian, manajeman SDM, bimbingan dan koordinasi akan lebih rapi dilakukan. “Fungsi lain yaitu reporting dan budgeting menyusul dan tidak akan sulit dilakukan. Kita akan buat MD Jawa Timur bekerja professional dan modern sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.”
Sedangkan komunikasi dan multimedia bukan lagi pada tahap akan dilakukan tetapi mendesak untuk dilakukan. “Apalagi pada masa pandemic Covid-19 kita dituntut untuk memindahkan pelayanan ibadah ke dunia virtual. Kita tidak boleh gagap tapi harus bisa memanfaatkan.”
Perkembangan multimedia pun harus diantisipasi dan dimanfaatkan untuk pelayanan semaksimal mungkin. Awalnya multimedia hanya mencakup media yang menjadi konsumsi indra penglihatan, dan pendengaran juga memiliki rupa. Dalam perkembangannya, multimedia mencakup juga gerak dan bau yang merupakan konsumsi indra penciuman.
Dengan kelima konsep yang dipaparkan, Adi Sujaka yakin para gembala di Jawa Timur akan mampu mengantisipasi segala permasalahan yang akan timbul di medan pelayanannya. “ Tentu yang utama adalalah saya akan menyentuh hati para gembala, pendekatan hati ke hati memungkinkan kita bersama, bersatu dan memikul mandat Illahi dari Tuhan Yesus Kritus.”
“Saya adalah gembala, bersama kita adalah gembala. Sebagai gembala saya merasakan asam, manis, pahit pelayanan dan itu mendewasakan saya. Saya rindu membagikan solusinya kepada para gembala, kiranya Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja berkenan dan memberkati kebersamaan kita,” tandasnya. (Chemuel Watulingas: Tulisan ini disajikan pantekostapos.com, edisi khusus menuju Satu Abad GPdI Bali, 30 Maret 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *