Sikap Yang Diambil MD GPdI SULTENG Terhadap Pendeta Hendrik Mandang Sudah Benar & Sesuai Prosedur Organisasi

Sulawesi Tengah,Pantekostapos.com,-Beredar sebuah surat yang berjudul SURAT MOSI TERBUKA/MOSI TIDAK PERCAYA ATAS SIKAP MAJELIS DAERAH GPdI SULAWESI TENGAH, TERHADAP PENANGANAN MASALAH di SIDANG PENGEMBALAAN JEMAAT  GPdI Gloria Lembah Mukti yang dipublish melalui Media Sosial Facebook, melalui akun resmi Hendrik Mandang dan Anita Herlina Kewas (Itha). Adapun hal-hal yang terkait dengan isi surat tersebut menyangkut keberatan terhadap ketimpangan dan ketidak Keprofesionalan Kinerja Majelis Daerah GPdI Sulawesi Tengah Priode 2017-2022. Adapun hal-hal yang tekait dengan surat mosi terbuka yang isinya terdiri dari 14 poin  diantaranya menyangkut personal MD GPdI Sulteng, Majelis Wilayah GPdI Pante Barat, Klarifikasi, Masalah Internal yang bersumber dari jemaat GPdI Hosana Panii terhadap sikap Ibu gembalanya di sidang Pemgembalaan GPdI Hosana Panii, kemudian merambat ke sidang pengembalaan Pdt Hendrik Mandang, sehingga merusak dan mengakibatkan jemaat yang dipimpinnya 80% tidak Beribadah selama 3 Bulan, kemudian ada anggota MD GPdI Sulteng tanpa kooperatif dan bijaksana mendesaknya Harus Pindah/Dimutasikan dan di beri kesempatan 1 bulan untuk mencari sendiri, sementara tidak ada pelangaran Firman Allah, serta Aggaran dasar/pelanggaran angaran rumah tangga (AD/ART) GPdI yang saya langar, anggota MD GPdI Sulteng Tanpa Kooperatif dan bijaksana mendesak, meneror lewat Media Hand Phone, kepada istri saya, mengatakan Segera Pindah jangan kami MD Gantung, sebab waktunya sudah habis.

Sementara itu menyikapi dengan hal-hal yang sudah dipublish di Facebook pada tanggal 02 November 2021, melalui pasangan suami isteri Pdt Hendrik Mandang dan Anita Herlina Kewas, Hamba Tuhan GPdI yang melayani di Wilayah Pante Barat, Donggala Sulteng, MD-GPdI Sulteng, menjawab dan memberikan klarifikasi terbuka:

“Sebagai tanggapan terhadap Sdr. Pdt. Hendrik Mandang tentang Pelayanan GPdI Lembah Mukti, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Sdr. Pdt. Hendrik Mandang sampai 2019 adalah gembala GPdI Lonca, Kecamatan Kulawi, Kab. Sigi. Menurut Ketua Wilayah Kulawi Pdt Sem Tentero, Jemaat yang di Gembalakan HM saat dia dimutasi hanya 1 orang.  Tapi ternyata waktu Biro Organisasi melantik gembala pengganti Sdr. Hendrik Mandang di Lonca,  tidak ada satupun anggota jemaat. Sebelumnya ada 3 keluarga namun terus berkurang kemungkinan karena pindah domisili. Gembala-gembala di wilayah Kulawi rata rata kurang harmonis dengan HM.  Pada saat ia pindah mereka senang. Begitu menurut Ketua Wilayah Kulawi, Pdt. Sem Tentero. Dalam rapat Pleno tahun 2019 Ketua MD merekomendasikan HM dipindahkan supaya ada penyegaran buatnya. Maka ia dipindahkan dari GPdI Lonca pegunungan Kulawi ke Lembah Mukti (Wilayah Pantai Barat) Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, SK nomor : 124/MD-ST/SK/R-5/IX-2019.  Menurut Ketua Wilayah Pantai Barat (Pdt. Yan Topile) baru 6 bulan di Lembah Mukti dia sudah bermasalah karena soal FB dan WA. (Menurut kesaksian Ketua, Sekretaris dan Bendahara Wilayah). Dia di nasehati oleh Majelis Wilayah agar jangan bertikai di Medsos.

Tapi berulang ulang HM melakukan hal yang sama. Dia di panggil 4 kali dan dinasehati oleh MW Pantai Barat agar jangan bertikai dan ribut di Medsos. Akibatnya rata-rata Gembala sewilayah bermasalah denganya karena Medsos. Kondisi di wilayah semakin memburuk dan tidak ada damai karenanya.

Akhirnya MW menyerahkan masalahnya kepada MD. MD mengundangnya dan menasehatinya agar menghindari debat dan pertikaian di Medsos karena itu tak berguna. Ia berjanji untuk berhenti. Tapi HM tetap tidak bisa berhenti bertikai di Medsos. MD tiga kali mengundangnya agar stop bermasalah dengan teman teman di Medsos. Namun ia terus mengulangnya. Masalahnya merembet sampai ke dalam Jemaat GPdI Lembah Mukti dan bahkan Jemaat GPdI di luar jemaat Lembah Mukti. Jemaatpun bermasalah dengannya karena Medsos. Jemaat jadi malu karena perbuatannya dan mereka tidak mau lagi beribadah karena malu. Suatu saat diadakan Mukerwil di mana Ketua MD hadir. Dalam Mukerwil itu, HM berbicara menyerang MW dan Gembala lainnya dengan kata kata. Ketua MD menasehatinya di Mukerwil itu agar jangan seperti itu dan jangan lagi bertikai di Medsos. Iapun berjanji tidak lagi melakukan itu. Namun HM tetap pada kebiasaannya. Tidak mau sadar dan mengalah.  Akibatnya seluruh Jemaat tidak mau lagi digembalakan olehnya. Jika tetap dipertahankan mereka akan pindah ke organisasi gereja lain. Mereka sangat tidak suka dan malu dengan gaya, sikap dan cara dari gembala ini. Minggu 17 Oktober Dia datang ke Tempat Ketua MD di Parigi. Disitu HM kembali di tegur dan dinasehati agar berhenti bertikai dan debat di Medsos. Ibu Rewah juga ikut memberikan nasehat. Namun rupanya memang sulit mengubah kebiasaannya ini. Dua bulan lebih jemaat tidak mau lagi beribadah karena ulah gembalanya. Maka MD berusaha dan mencari solusi terbaik buatnya.  Tanggal 17 September 2021 MD turun ke Lembah Mukti untuk mempertemukannya dengan Jemaat dan mediasi agar mereka bisa bersatu. Tapi Jemaat sudah terlanjur terluka dan malu, maka mereka tak bersedia untuk mediasi dan sudah tidak bersedia digembalakan olehnya. MD memberinya waktu satu bulan dan mendorong HM mencari kawan gembala untuk saling bermutasi. Itu kebijakan MD sebagai bentuk pertolongan supaya dia bisa menggembala di tempat lain.  Ia berhasil mendapatkan rekan Gembala untuk saling mutasi. Mutasi antara Gembala GPdI Lembah Mukti dengan GPdI Berdikari. Tapi sayang gagal karena Jemaat GPdI Berdikari mencium kebiasaannya bermedsos.

 Akhirnya MD menemukan solusi ke dua. Di Jemaat Mora, Wilayah Lembo, Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara ada sidang kosong (Penggembalaan Sekretaris Wilayah yang Pindah tugas). MD memutasikannya ke GPdI Mora SK MD Nomor :250/MS-ST/SK/R-5/X-2021 sudah terbit dan sedianya dia dilantik pada Minggu, 24 Oktober. HM sudah memimpin / berkhotbah pada ibadah Minggu pagi di GPdI Mora dan Jemaat sudah menerima dengan sukacita.  Jemaat sudah menyembelih 1 ekor babi. MW dan Gembala se-Wilayah Lembo sudah kumpul untuk acara pelantikan. Tapi, sayang sekali dia membatalkan dan tak mau dilantik dan pulang. Teman teman Gembala Lembo dan Jemaat Mora sangat kecewa dan malu. Jemaat, Wilayah dan MD berusaha menahannya. Tapi semua dia baikannya. Jemaat, MW, Gembala serta MD dibuatnya begitu bingung dan kecewa dan tak habis pikir. Kesempatan baik dan berharga ini tak dihargai dan bahkan diabaikan olehnya.

Jemaat Lembah Mukti tidak mau lagi digembalakan olehnya. (Ada surat pernyataan mereka). Padahal jemaat di sana adalah jemaat yang baik, setia dan rajin berkorban. Jemaat Lembah Mukti sangat kecewa dengan dengannya. Perlu diketahui jumlah Jemaat GPdI Lembah Mukti yang masalahnya diviralkan oleh HM hanya berjumlah 2 Keluarga. Lebih parah lagi, pada 17 Agustus 2021, HM memecat Jemaat Lembah Mukti dengan bukti Surat Keputusan tulisan tangan. Jadi seluruh Jemaat telah dipecatnya (2 Keluarga). Surat ini baru diserahkan Oleh HM pada Jemaat ini pada Hari, Sabtu, 30 Oktober 2021.

Dalam rapat pleno terbatas, Kamis, 28 Oktober di Tentena, ia direkomendasikan untuk dikenakan sanksi pendisiplinan karena telah menimbulkan keresahan antar Hamba Tuhan dan Jemaat serta tidak taat pada Pimpinan organsiasi. Sekalipun dia membuat Surat Terbuka sebagai Mosi tidak percaya pada MD. Namun Ketua MD masih akan memberinya kesempatan untuk di tempatkan di Daerah Sulteng dengan alasan HM memiliki keluarga (Isteri dan Anak), dengan syarat ia harus menyadari dan tidak  mengulangi kesalahannya. Moga saja dia menyadari kesalahannya dan melayani hingga berhasil.  Disertai data: 1. SK Penggembalaan di Lembah Mukti. SK nomor : 124/MD-ST/SK/R-5/IX-2019, 2. SK Pemberhentian (Pemecatan) Jemaat Lembah Mukti oleh HM. Jumaat, 17 September 2021. Tapi baru diserahkan hari Sabtu, 30 Oktober 2021, 3. SK Penempatan di Mora. Minggu, 24 Oktober 2021, 4. Surat Penolakan Jemaat. Rabu, 27 Oktober 2021.  Sumber klarifikasi: Sekretariat Kantor MD Sulteng GPdI dan Pdt. Markus Sigalingging. Sekda MD Sulteng.  Menurut Pdt Henry Lolaen, Salah satu Pimpinan MP-GPdI  yang membidangi Departemen Penggembalaan beliau mengatakan; “Langkah yang diambil oleh unsur Pimpinan MD GPdI  Sulteng sudah sangat benar sesuai prosedur organisasi dan tidak melanggar AD ART GPdI kemudian terkait dengan langkah dari seorang Gembala Jemaat, HM yang memposting permasalahannya melalui medsos adalah sebuah pelanggaran etika dalam berorganisasi, kurang tepat dan menurut Hendrik Lolaen, medsos bukan tempat untuk penyelesaian masalah dan bukan tempatnya untuk mencari pembenaran dan mosi tidak percaya tersebut tidak didukung oleh kelompok ini sebuah kesalahan dan pembangkangan terhadap organisasi,” Ungkapnya. (Chemuel & Jhon Kewas).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *