TELAAH KRITIS SECARA EKSPLISIT TENTANG TRITUNGGAL

Pdt. Dr. Joike Liando, M.Th sedang diwawancara oleh Mahasiswi UPH

Pdt. Dr. Joike Liando, M.Th sedang diwawancara oleh Mahasiswi UPH
KARAWACI TANGERANG, Pantekostapos.com, Misteri Trinitas dalam keesaan Allah telah menjadi pergumulan panjang. Upaya pemikiran para teolog sejak semula terus melakukan kajian dengan menggunakan berbagai instrument keilmuan sebagai pendekatan baik filsafat, ilmu social, historical geschichte, teologis, biblika, misiologis dan sebagainya. Tritunggal bagi Kristen merupakan fondasi dan substansi keimanan yang telah diekpresikan dalam kredo, dan pengalaman praksis menjalani hidup hari-hari. Konsep tritunggal yang merupakan kulminasi dari ajaran Kristen terus mengalami resistensi dan attack. Telaah kristis secara eksplisit  tentang Tritunggal tersebut diungkap oleh Pdt DR. Joike Liando, MTh, Dosen STT Makedonia Jakarta menjawab sebuah pertanyaan dari para Mahasiswi S1 Jurusan Physikologi Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci Tangerang Banten, terkait dengan Tritunggal, dalam rangka memenuhi  tugas mata kuliah Agama Kristen di awal perkuliahan para Mahasiswi di UPH Tahun 2019.
Kepada para Mahasiswi UPH bertempat di ruangan Perpustakaan Johannis Oentoro Kampus UPH, Pdt Joike Liando melalui wawancara khusus mengatakan; Secara eksplisit saya ingin menelaah Konsep Tritunggal yang bersifat sintesis dan konstekstual. Metode penguraian kali ini menggunakan Tools : Four Questions, sebuah teori Dr Daniel Nuhamara (Rektor STT Moriah).
There are four Questions about this :1.What is happening ? 2.Why is happening ? 3.What does it mean ? 4.How shall we respond? Diharapkan penguraian dengan menggunakan metode ini akan memberikan sumbangan pemikiran tentang alternatif alur berpikir yang sistematis.
1.What is happening ?
Bagian ini mencoba mempertanyakan apa sesungguhnya yang terjadi, yang sedang kita alami dan hadapi saat ini. Dapat juga bermaksud melakukan identifikasi masalah atau kajian ontologis, unsur metafisik yang bersifat kausalitas. Tritunggal adalah istilah yang memunculkan resistensi dari luar dan penetrasi ke arah keyakinan Kristen, dengan mengkritisi secara tajam, melakukan attack (serangan) dengan tuduhan telah menyekutukan Allah dengan yang lainnya atau diistilahkan Tritheis juga politheis, dan bukan monotheis.
Selanjutnya dalam konsep KeAllahan dan KeTuhanan, ketika tinjauannya mengarah kepada Yesus, maka studi komparatif yang dilakukan adalah  Yesus sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan Allah yang memiliki sifat transcendental atau kemahaanNya. Lalu ketika Yesus mati, berarti Allah itu menjadi terbatas, seperti juga salah satu konsep kontemporer yakni adanya teologi Allah mati. Orang Kristen menyanyikan lagu : “… di sana Tuhanku t’lah mati….”. Bagaimana mungkin Tuhan bisa mati? Meskipun ditinjau dari kemahakuasaan Allah, itu dapat dilakukan, tetapi Allah tidak mungkin mau melakukannya. Benarkah Allahnya orang Kristen itu mati?
Barangkali didasari oleh beberapa hal yang diketahui.contoh: Doa dalam kredo agama Kristen menyebut dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh, yang menunjukkan bahwa Allah ada tiga. Meskipun secara tekstual tidak tertulis dalam Alkitab. Kemudian dibenturkan lagi bahwa kalau Yesus itu Allah, mengapa pada bagian lain Dia disebut Anak Allah. Satu lagi masalahnya bahwa ternyata Allah itu beranak. Dapat dibayangkan bahwa Allah sudah disekutukan dengan yang lain, Allah disalib, Allah bisa mati, Allah beranak pula. Yesus ditolak keTuhanan dan keAllahanNya karena dinilai tidak berdasar secara ilmiah.
2. Why is Happening ?
Bagian ini menguraikan alasan-alasannya, mengapa itu terjadi? Masalah sosial keagamaan, seperti kritik sosial yang dilakukan oleh Hegel dan Karl Marx. Hegel mengatakan : “Agama menjadi SUMBER alienasi ” artinya mencomot ayat-ayat untuk dijadikan pijakan dasar atau alasan melakukan sesuatu yang secara hermeneutis tidak relevan dan tidak kontekstual. Ayat diambil karena atas nama Firman, maka sering dijadikan senjata ampuh untuk menyerang. Dapat dibayangkan kalau kitab agama-agama semitik yang banyak memiliki kesamaan isi tentang kisah perjalanan umat dahulu, di mana konteks perang di zaman itu memang dihalalkan untuk membunuh. Alkitab PL banyak ayat tentang pembunuhan dalam konteks perang, tetapi penafsiran dan penjabarannya tentu bukan lagi sebagai perintah untuk manusia PB melakukan kekerasan. Pada akhirnya Tuhan menjadi terasing dalam proses pengenalan umat akan Allah.
Karl Marx mengatakan : “ Agama menjadi  PRODUK alienasi ” artinya Agama sebagai alat kekuasaan untuk menekan, membatasi, memperlakukan dengan tidak adil. Seperti kaum buruh (proletar) di tangan feodal kapitalis (Borjuis). Seperti analogi Marx melihat perlakuan pria terhadap wanita yang di stereotype sebagai mahluk yang lemah, disubordinasi atau dinomorduakan, dimarginalisasi, double burden atau penempatan wanita yang juga bekerja keras di kantor dan sekaligus menjadi pelayan rumah tangga yang harus mengurusi semua yang ada dalam rumah (Beban ganda), kemudian wanita menjadi objek kekerasan/ budak nafsu. Gambaran kekuasaan yang dilegitimasi oleh agama telah menciptakan arogansi kekuasaan dan merasa berhak untuk memperlakukan yang lain semena-mena.
Istilah Tritunggal, adalah istilah yang digunakan oleh bapa-bapa gereja (pasca rasuli) dengan berbagai metode penafsiran yang mengkaji Keesaan Allah yang secara implisit disebut Trinitas atau tritunggal atau Triune. Karena eksplorasi terhadap konsep tritunggal, sehingga secara liberal beberapa uskup menafsirkan secara bebas dan liar tentang tritunggal, kemudian terbangun menjadi paham.
Pengkhianatan iman yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani yang menyesatkan seperti Origenes (185M) dari Alexandria, yang membuat klasifikasi level / tingkatan antara Bapa, Firman dan Roh. Kemudian muncul Arius. Arianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Arius pada tahun 300.  Dister menganggapnya sebagai kecenderungan manusia untuk mempersempit misteri Allah. Arius menganggap Yesus sebagai ciptaan saja. Nestorianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Nestorius pada tahun 400  Menurut Nestorius, Putra Allah di surga dan manusia Yesus di bumi bukanlah satu pribadi yang sama, melainkan dua pribadi.  Keduanya memang berkaitan satu sama lain, tapi tinggal tetap dua.  Akal budi manusia ingin mempertahankan gambaran Allah yang “murni”, surgawi dan rohani.  Maka Allah Putra dipisahkan dari Yesus yang pernah berkeliling di dunia ini.
Monofisitisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Yesus hanya satu kodrat, yaitu ilahi. Monofisit berasal dari Bahasa Yunani, ος (nomos) yaitu satu, dan φύσης (fuses) berarti kodrat, jadi Kristus hanya memiliki satu kodrat, hal ini bertentangan dengan Nestorianisme. Yesus yang berjalan-jalan di bumi sebenarnya adalah Allah, kemanusiaan Yesus dianggap hanya semu saja.
Penyebab lainnya karena pengetahuan yang terbatas, perbedaan perspektif yang hanya membatasi diri pada tinjauan aspek tertentu saja, dan upaya pelemahan doktrin yang berhubungan dengan keimanan, serta penyebutan istilah Allah Anak dan Allah Roh yang tidak terjembatani untuk dipahami dengan tuntas dan benar.
3. What Does it mean ?
Bagian ini adalah proses penguraian secara epistemologis atau melakukan refleksi teologis tentang Tritunggal, secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Konsep KeTuhanan Kristen dan agama lain, berbeda, dan apa yang tertulis dalam Alkitab hanya dapat dipahami secara Alkitab. Menguraikan tentang Allah harus dipahami secara Allah. Nico Syukur Dister mengatakan bahwa  tentang Allahlah kita berbicara, jika kita berbicara tentang Allah. Konsep Tuhan, Tritunggal, Sang Firman, Pribadi/persona, istilah anak menggunakan bahasa Alkitab. Secara eksplisit pemahaman tentang Tritunggal akan dieksplanasi.
Harus dipahami dahulu bahwa Tritheis tidak sama dengan Tritunggal. Karena Tritheis memiliki hakekat berbeda-beda, sementara Tritungal itu se-hakikat. Kemudian pertanyaan berikutnya Apakah ada keberadaan sebelum keberadaan lain diciptakan? Kitab Kejadian 1:26 “Marilah kita menjadikan manusia itu ….” Kata “kita” itu jamak. Let Us itu jamak. Im pada kata Elohim adalah penanda jamak. Siapakah yang sedang berbicara dengan siapa pada kekekalan sebelum ada ciptaan? Yohanes 1:1-3, “pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah, Ia (Firman) pada mulanya (kekekalan) bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Allah sejak kekekalan itu merupakan keberadaan yang tidak dapat dilihat. Ibarat angin yang tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan keberadaannya. Allah itu ada, maka ada sudah ada sebelum ada itu ada. Artinya keberadaan Allah sudah ada dalam kekekalan sebelum mencipta keberadaan lainnya. Allah itu pasti memiliki Roh, karena kalau tidak berarti Allah hanya ide, imaginasi objek sembahan. Allah juga pasti punya Firman dalam diri-Nya, sebab ciptaan itu ada dengan cara Allah ber Firman. Firman bukan ciptaan Allah, karena kalau Firman itu ciptaan, lalu dengan apa Allah menciptakan. Sekali lagi Allah menciptakan dengan cara berFirman. Jadi dalam diri Allah ada Firman dan Roh.

 

Ki-ka: Verren Natasya, Gabriela Tarigan, Claudia Wowor, Chemuel Watulingas (Pemred PP), Adelia Parasia, Angatha Angeline, dan Sarah Sarasvati
Dalam istilah Teologi ada sebutan Ousia dan Hypostasis. Keberadaan itu disebut Ousia dan sifat-sifat-Nya adalah Hypostasis. Manusia secara eksistensi disebut ousia yang memiliki tubuh jasmani, tetapi dalam diri manusia ada hypostasisnya makanya pasti ada pikiran dan roh. Ketiganya berada dalam satu hakikat. Ketika pikiran manusia itu melahirkan ide-ide untuk berbicara kemudian direkam menjadi kaset, CD atau di Handphone, yang terjadi adalah pikiran kita telah menjelma dalam kaset, CD, flash disc, HP dst. Tetapi sewaktu CD atau HP itu rusak, terbakar, bukan berarti pikiran manusia ikut terbakar. Sama halnya ketika Firman menjelma menjadi manusia, ketika manusia (Yesus) itu mati di salib, bukan berarti Firman ikut mati di salib. Firman yang sehakikat dengan Allah itu tidak akan pernah mati. Keilahian dalam diri Yesus adalah Firman. Firman/kalam itu ilahi. Firman turun menjadi kitab dan Firman turun menjadi manusia, tidak mengubah kemahaan Allah secara hypostasis; maha kuasa, maha hadir, maha tahu, maha kudus dan seterusnya, bersifat kekal dan tidak akan mati.
KeAllahan dan KeTuhanan Yesus ada pada diri-Nya sebagai Firman yang ilahi dan kekal adanya. Allah yang secara translasi disebut Yahweh (Ibrani), Theos (Yunani), God (Inggris) dan Tuhan (kurios dalam bahasa Yunani, Lord dalam bahasa Inggris, Adonai dalam bahasa Ibrani), yang memiliki arti pemegang kekuasaan tertinggi, sehingga pelabelan Tuhan pada kata Allah ; “Tuhan Allah” (Adonai Elohenu), sama dengan istilah Yunani Kurios yang artinya kekuasaan yang paling tinggi pada frasa Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berarti Yesus itu memiliki kekuasaan tertinggi. Istilah Kurios dan Lord sering digunakan untuk para raja, kaisar, pembesar dan penguasa lainnya. Makanya Alkitab menyajikan penulisan berbeda antara TUHAN, Tuhan dan tuhan (tuan) semua artinya sama yaitu penguasa, pemegang otoritas tertinggi. Jelaslah bahwa Yesus adalah Kristus (yang diurapi), Tuhan (memiliki kekuasaan tertinggi) dan Allah (Firman yang berdiam secara hakikat dengan Allah dalam diri Yesus). Manifestasi, jamahan, urapan dan pengilhaman adalah pekerjaan Roh Allah. Seolah terpisah tetapi sesungguh dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Stephen Tong berkata : “ Allah Tritunggal adalah satu hakekat dalam 3 karya berbeda; Alah yang mencipta, Yesus yang menebus dan Roh Kudus yang mengilhami, tetapi pada ketiganya sama-sama terlibat di dalam prosesnya.”
Harun   Hadiwijono,  (Iman Kristen, BPK, 2001),330  Firman Allah tidak mungkin dilahirkan  oleh manusia, Ia sendiri yang lahir, dengan  memakai manusia sebagai perantara, dengan karya Roh Kudus, Firman Allah  mengenakan cara hidup insani di dalam  kandungan Maria.  Inilah suatu rahasia  luar biasa  agung dan  mulia. Kolose 2:9  “ bahwa di dalam Kristus telah berdiam secara jasmaniah  seluruh kepenuhan keAllahan;   (Harun Hadiwijono. 328),  “artinya seluruh hakekat Tuhan Allah dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Di dalam diri Tuhan Yesus itu Allah Bapa menyatakan atau memperkenalkan diriNya secara sempurna, oleh karena itu maka Kristus juga disebut  “Cahaya kemuliaan  dan gambar wujud  Allah  (Ibr.1:3), sehingga barang siapa telah melihat Yesus, ia telah melihat Bapa (Yoh.14:9).
Allah itu Esa (Ekhad, dalam bahasa Arab Tauhid), satu-satunya yang disembah, yang secara ontologis disebut trinitas karena Tuhan memiliki Logos (pikiran, perkataan, firman) dan Pneuma (roh, kehidupan). Eksistensi Allah tidak boleh disamakan dengan eksistensi ilah-ilah lain. Kalau demikian apakah ada konsep trinitas dalam agama kaum kedar? Secara pengistilahan tidak ada. Tertulianus (160-225), Allah yang Esa itu adalah Dzat (bukan zat materi) yang memiliki kalam dan hayat, ketiganya adalah sehakikat. Dzat adalah Ousianya dan sifat-sifatNya disebut Hypostasis untuk Firman dan Roh. Ini diperkuat oleh Abdul al-Masih al-Kindi (830), apologet Kristen yang hidup di zamat Abbasiyyah. Dan ini pada akhirnya dipakai juga dalam ilmu Kalam untuk menjelaskan hubungan Dzat dan Syifat. (Andreas Kemal).
Bambang Noorsena: “Apakah Iman Kristen bergeser dari warisan Iman Ibrahim yang monotheis itu?”  Sekali lagi, bahwa agama semitik baik yahudi, Islam dan Kristen memiliki akar yang sama dalam sejarah Ibrahim. Sebagaimana yang ditulis oleh Musa dalam Kitab Ulangan 6:4 : ““Shema Ysrael YHWH (Adonai) Eloheinu YHWH (Adonai) Echad (“Dengarkanlah, wahai Israel, YHWH (TUHAN), sembahan kita, YHWH (TUHAN) itu Esa”). Ini juga yang diucapkan Yesus dalam Markus 12:29  Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan  itu sembahan kita, Tuhan itu Esa” – Kurios ho THEOS hemin Kurios eis eisti. Murid Yesus juga mengingatkan dalam 1 Korintus 8:4b, dalam Injil berbahasa Arab berbunyi : “La ilaha illa Allah” – Tidak ada ilah selain Allah. Maka dipastikanlah bahwa Kristen adalah Monotheis yaitu Allah yang Esa yang pasti memiliki Firman dan Roh dalam diriNya. Firman dan Roh satu dalam diri Allah (homoousion to patri).
Tritunggal pada Kristologi Abad 4 dan 5 Masehi di mana Konsili Nicea, Efesus dan Khalsedon adalah doktrin Kristus yang dirumuskan pada tiga konsili itu. Konsili Nicea, Efesus dan Khalsedon adalah upaya untuk membela iman mereka dari berbagai pengajaran uskup Arius dan sekutunya.
Di atas ini telah dibahas tentang Allah secara translasi. Saya tidak perlu meluas untuk membahas Allah secara transliterasi dalam proses dialektika bahasa, yang dapat dipelajari secara semantic tentang nama Allah, yang ditulis dengan ELOHIM, ELOAH dan EL berkaitan dengan akar kata EL, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno, EL, IL, AL, ILU atau ILAH, menjadi Al Ilah, Al Alla lalu menjadi Allah di Arab, dalam sebutan kaum pagan, lalu diadobsi oleh kelompok Nasara (nasrani), abad ke 7 baru agama islam menggunakannya. Intinya tidak perlu mempersoalkan perubahan transliterasi nama Allah, karena sejak dahulu penyapaan terhadap sembahan memiliki objek yang berbeda-beda, tergantung bagaimana meyakininya sebagai sembahan kita yang disebut apa. Orang minahasa menyebut Opo Wananatas, orang batak Debata, dst, itu hanya pendekatan misiologis dan pengalihan objek penyembahan. Yang jelas Allah yang kita sembah dengan allah dewa itu tidak sama, dan eksistensinya pasti berbeda.
4. How Shall We Respond ?
Pada bagian ini adalah respon kita bagaimana?, apa sikap yang dapat kita ambil sehubungan dengan permasalahan Kristologi yakni konsep Tritunggal yang mengalami resistensi dan penetrasi.
Secara ringkas Ada 5 Sikap / Respon kita tentang Tritunggal. Antara lain :
a.Aspek Sejarah.
Istilah Tritunggal muncul di zaman Bapa Gereja. Origenes (185) dan Arius (320) dari Alexandria. Menyebut FA adalah Ciptaan dan memiliki tingkatan. Pada Konsili Nicea tahun 325M  dan Konsili Konstantinopel 381M Pemahaman itu telah diTOLAK. Sejak itu istilah Tritunggal telah memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang Allah, dengan rahasia keilahian-Nya yang terungkap.
b. Aspek Teologis.
Berdasakan doktrin Gereja, kita mengakui Allah Trinitas dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Tritunggal oleh bapa-bapa gereja tidak berbicara tentang keberapaan Allah, tetapi kebagaimanaan Allah dalam hubungan (nisbah) antara Hakekat Allah yang Esa / Ekhad / Tauhid (bhs Teologi: Ousia thd Dzat) dengan Sifat2Nya atau keMahaan-Nya (Hypostasis). — Tertulianus (160-225M).
c. Aspek Biblika.
Gereja mengakui bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah firman Allah yang diilhami Roh Kudus. Kita memiliki akar keyakinan Monotheisme Ibrahim / Abraham. Kitab Kristen (PL) dan Yahudi sama. Istilah Elohim (Kejadian 1:26) “Let Us” (Jamak). Yoh 1:1-3 telah diulas tentang Firman itu. Bahwa Firman sudah ada dalam kekekalan bersama dengan Allah, karena Firman dan Roh sehakikat dalam diri Allah. Ketiganya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, ketiganya berkarya pada waktu penciptaan. Allah mencipta dengan cara berFirman dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air artinya kemahakuasaan-Nya bekerja saat penciptaan tersebut.
Ketiganya adalah Esa / monotheis.  Yesus mengutip kitab Ulangan atau Devarim 6:4-5. Shema Yisrael, Adonai Elohenu, Adonai Ekhad. (dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa), jelas kita menganut Monotheisme bukan tritheisme apalagi Politheisme. Begitu banyak referensi ayat tentang monotheisme dalam Alkitab.
Tentang Yesus dalam 2 natur; Yoh 8:42 – Yesus  (Firman) datang dari Allah. 1 Petr 3:18, Yesus mati dalam keadaanNya sebagai manusia.  Jadi bukan Firman keIlahian Yesus yang mati.  Istilah “oknum” pada KeAllahan tidak sama dgn oknum manusia. Person : Tertulian: “Metafisika Personality”. Kristen tidak menyembah Allah yang mati, tetapi Allah yang hidup yang memiliki Firman dan Roh dalam diri Yesus.
d. Aspek Misiologis.
Penginjilan kontekstual yang memungkinkan penterjemahan nama Elohim dan Yahweh ke dalam bahasa daerah. Kitab Bahasa Jawa, Sunda, Batak, Mandarin, Manado, Toraja, Alkitab BerBahasa Arab, Inggris dan seterus sesuai dengan konteks setempat lokasi pelayanan. Karena tujuannya agar semua manusia di bumi mengenal Yesus. Kristenisasi (agama) tidak tepat istilahnya, tetapi menjelaskan siapa Yesus adalah merupakan kewajiban semua manusia dan untuk semua manusia, sesuai target Tuhan di bumi ini. Maka orang Inggris mengenal God, Lord, Words of God, Holyspirit (Tritunggal dalam konteks bahasa Inggris).Orang Arab mengenal Allah yang Dzat Al Wujud, memiliki kalam dan hayat. Orang Yunani mengenal Allah dengan Kurios ho Theos; Pater, Logos dan Pneuma, dan kita mengenal Allah sebagai Bapa yang memiliki Firman dan Roh Kudus.
Pendekatan budaya dan bahasa dalam penguraian tentang Allah yang Esa / Tauhid, tidak menghalangi orang batak memiliki Debata, manado dengan opo wananatas, dan seterusnya sebagai upaya pengalihan objek penyembahan dari dewa kepada sang pencipta yang agung. Itu semua bagian dari dialektika bahasa untuk harmonisasi iman kepada keesaan Allah dalam Kristus Yesus Tuhan kita.
e.Aspek Organisasi.
Gereja memiliki pengakuan iman (kredo) yang secara jelas memuat nama Allah dan Tuhan. Dan sudah berabad-abad lamanya Kristen mengalami pertumbuhan baik kwantitas maupun kwalitas yang diwarnai dengan berbagai tempaan, serangan, aniaya, pelecehan, bulian, sindiran kasar, dengan segala macam cara untuk memberangus keyakinan, mempersempit ruang gerak, tetapi justru semakin dihambat semakin merambat. Makin kekar di masa sukar di akhir zaman ini.
Gereja tetap konsisten percaya Allah tritunggal yang Esa dan kekal adanya. Baik dalam pelayanan, kegiatan ibadah, doa dan nyanyian-nyanyian, tetap mempercayai adanya ketiganya yang Esa. Faktanya gereja terus berkembang, progresif dan dinamis karena pekerjaan Roh Kudus Allah yang diperoleh dalam Kristus Yesus Tuhan kita.
Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa semua ilmu di dunia ini selalu mengalami perubahan, bahkan ada yang tidak lagi dapat gunakan karena ilmunya sudah using dan ketinggalan zaman. Contoh Matematika zaman dulu tidak lagi sama dengan matematika zaman sekarang, hal yang terjadi pada disiplin ilmu lainnya. Namun satu-satunya ilmu yang tidak pernah berubah adalah ilmu Teologi tentang Keilahian Yesus dan Tritunggal dalam Kristologi. Konsisten tetap sama dari dulu sekrang sampai selamanya, itulah Tuhan Allah kita, Yesus Kristus Juruselamat seisi dunia. (Chemuel).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *