Thu. Jun 27th, 2019

Teologi Kesetiaan

MAKASSAR, Pantekostapos.com — Baru-baru ini saya berselancar di dunia maya, yaitu: di media sosial, Facebook. Saya sempat chatting (ngobrol menggunakan Messanger) dengan seorang bapak rumah tangga dan aktivis gereja. Bapak ini menjelaskan bahwa ia sementara mengikuti perkuliahan Program Magister pada sebuah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen yang cukup terkenal di kota Makassar ini. Beliau mengundang saya untuk ikut menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tersebut, dengan alasan bahwa perguruan tinggi tersebut cukup bagus karena telah terakreditasi Baik. Dosen dan staf pengajarnya adalah orang-orang yang memang pakar di bidangnya masing-masing.

Ketika saya bertanya seberapa ketat kehadiran dalam sistem perkuliahan tersebut, mengingat saya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia menyatakan bahwa kehadiran mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan sangat ketat, karena hanya diperbolehkan untuk tidak hadir mengikuti kuliah maksimal 3 kali dalam satu semester untuk setiap mata kuliah. Jika ada mahasiswa yang tidak hadir lebih dari 3 kali maka secara otomatis dinyatakan tidak lulus dan mendapat nilai E dan harus memprogramkan lagi pada semester selanjutnya jika ingin lulus mata kuliah tersebut. Sambil tertawa beliau menulis penerapan Teologi Kesetiaan.

Jujur saya tertarik dengan penggunaan istilah Teologi Kesetiaan tersebut. Saya mencoba untuk lebih memaparkan seperti apa Teologi Kesetiaan tersebut, meskipun saya tidak memiliki latar belakang keilmuan di bidang Teologi yang cukup. Ya hitung-hitung belajar memperkaya khasanah keilmuan diri sendiri.

Teologi Kesetiaan adalah salah satu kajian di dalam disiplin ilmu Teologi. Teologi Kesetiaan merupakan salah satu inti dari teologi Paulus dalam memberitakan injil kebenaran Yesus Kristus untuk menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Paulus dalam ajaran-ajarannya selalu berupaya menjelaskan dan menggambarkan kepada kita bahwa betapa Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia. Hal ini nampak dari beberapa surat-surat Rasul Paulus kepada jemaat yang ada di Korintus, yaitu antara lain:

1 Korintus 1:9: “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Allah itu setia, yang oleh-Nya kamu dipanggil ke dalam persekutuan dengan Anak-Nya, Kristus Yesus, Tuhan kita.”

1 Korintus 10:13: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

2 Timotius 2:13: “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

2 Korintus 1:18-20: “Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak”. Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”. Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”

Dari beberapa Pasal dan ayat dari surat-surat Paulus kepada Jemaat di Korintus, Paulus mencoba menggambarkan bahwa Allah selalu setia memanggil setiap orang kapan saja dan di mana saja, masuk dalam persekutuan dengan anak-Nya Yesus Kristus untuk menerima keselamatan ( Yohanes 14:6). Selanjutnya Paulus juga menggambarkan bahwa Allah setia dengan janjinya, bahwa DIA tidak akan memberikan pencobaan yang melebihi kekuatan kita dan bahkan memberikan jalan keluar kepada kita, sehingga kita mampu menanggungnya. Selanjutnya Paulus menggambarkan bahwa meskipun kita manusia kadang berubah setia, tetapi Allah tidak akan berubah setia dengan janji-janji-Nya, karena tidak mungkin DIA menyangkali diri-Nya sendiri.

Kesetiaan Allah kepada kita seharusnya tidaklah berlaku secara sepihak, tetapi harus secara berimbang dengan kesetiaan kita kepada-Nya. Paulus mencoba menasehati kita untuk tetap berlaku setia pula kepada Allah di tengah-tengah ketidakmampuan kita sebagai manusia biasa. Paulus menjaminkan kesetiaannya terhadap janji-janjinya yang dapat dipegang, diyakini dan dipercaya oleh orang banyak yaitu janji ya di atas ya atau tidak di atas tidak. bukan berjanji ya dan tidak, sebagaimana semua janji Yesus kepada ummat manusia hanyalah ya.

1 Timotius 6:11: “…..kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan“

Kesetiaan kita kepada Allah haruslah dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan, tidak cukup hanya dengan kata-kata. Tetapi sesuatu yang harus dikejar, diupayakan secara maksimal agar kita memiliki kualitas hidup yang setia sebagai orang yang percaya kepadanya. Kesetiaan kita kepada Allah seharusnya tidak terikat dengan ruang dan waktu tetapi sampai pada nafas terakhir untuk meraih segala janji-janji Allah yang akan diberikan kepada setiap hamba-Nya yang setia.

Wahyu 2:10 (b) “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.“

Penulis: Dr dr Ampera Matippanna, S.Ked. MH (Pembina YKMI)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Sumber: ykmi.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *